A.
Tinjauan
Sejarah
Pada tahun
1920, Piaget mendapatkan tiga pemikiran penting yang mempengaruhi berpikirnya
dikemudian hari. Pertama, Piaget melihat bahwa anak yang berbeda umurnya
menggunakan cara berpikir yang bebeda. Inilah yang mempengaruhi pandangan
Piaget mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif anak. Kedua, metode
klinik digunakannya untuk mengorek pemikiran anak secara lebih mendalam. Metode
inilah yang dikembangkan Piaget dalam studinya tentang perkembangan kognitif
anak. Ketiga, Piaget berpikir bahwa pemikiran logika abstrak mungkin
relevan untuk mememahami pemikiran anak.
Selama
penelitian, Piaget semakin yakin akan adanya perbedaan antara proses pemikiran
anak dengan orang dewasa. Ia yakin bahwa anak bukan merupakan suatu tiruan
(replika) dari orang dewasa. Anak bukan hanya berpikir kurang efisien dari
orang dewasa, melainkan berpikir secara berbeda dengan orang dewasa.
Pada tahun
1920-1930, Piaget bersama dengan istrinya, ia meneliti ketiga anaknya sendiri
yang lahir pada tahun 1925, 1927, dan 1931. Hasil pengamatan terhadap anak-anaknya ini dipublikasikan
dalam The Original of Intelligence in Children dan the Consruction of
Reality tentang tahap sensorimotor. Studinya tentang masa kanak-kanak meyakinkan
Piaget bahwa pengertian dibentuk dari tindakan anak dan bukan dari bahasa anak.
B. Tiga Aspek
Perkembangan Intelektual
Dalam teorinya
Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean
Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan
lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu
proses sosial. Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu
individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya
lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan lingkungan fisiknya. Interaksi
anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam mengembangkan
pandangannya terhadap alam. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain,
seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang
diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif. Aktivitas mental anak
terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut ”skema” atau
pola tingkah laku.
Dalam
perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget
yaitu struktur, isi dan fungsi (Piaget , 1988: 61 ; Turner, 1984: 8).
- Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur.
- Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
- Fungsi, adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses
kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman
baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi
dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan
kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini
berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata
melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu
dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru
pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi. Dalam
menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat
mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai.
Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang
telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi
untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau
memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi
Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi.
Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap
lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat
ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur kognitif yang ada
akan mengalami perubahan atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan
intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan
ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi
bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih
tinggi daripada sebelumnya.
C. Tingkat-tingkat
Perkembangan Intelektual
1.
Beberapa Konsep dalam Teori Piaget.
Ada beberapa
konsep yang perlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori perkembangan
kognitif atau teori perkembangan Piaget, yaitu;
1.
Intelegensi. Piaget
mengartikan intelegensi secara lebih luas, juga tidak mendefinisikan secara
ketat. Ia memberikan definisi umum yang lebih mengungkap orientasi biologis.
Menurutnya, intelegensi adalah suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua
struktur yang menghasilkan persepsi, kebiasaan, dan mekanisme sensiomotor
diarahkan.
2. Organisasi. Organisasi
adalah suatu tendensi yang umum untuk semua bentuk kehidupan guna
mengintegrasikan struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu
sistem yang lebih tinggi.
3. Skema. Skema adalah
suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengan
lingkungan sekitarnya. Skema
akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan kognitif seseorang.
4. Asimilasi.
Asimilasi adalah proses kognitif
dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru kedalam
skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.
5. Akomodasi.
Akomodasi adalah pembentukan skema
baru atau mengubah skema lama sehingga cocok dengan rangsangan yang baru, atau
memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan yang ada.
5. Ekuilibrasi.
Ekuilibrasi adalah keseimbangan
antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana
tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat
membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.
D. Tahap
Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget,
tahap perkembangan inteluektual anak secara kronologis terjadi 4 tahap. Urutan
tahap-tahap ini tetap bagi setiap orang, akan tetapi usia kronologis memasuki
setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai
berikut:
# Tahap
sensorimotor : umur 0 – 2 tahun.
(Ciri pokok
perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta
mempelajari permanensi obyek)
Tahap paling
awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur
2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget. Pada tahap
sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak
terhadapat lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau
dan lain-lain.
Pada tahap
sensorimotor, gagasan anak mengenai suatu benda berkembang dari periode “belum
mempunyai gagasan” menjadi “ sudah mempunyai gagasan”. Gagasan mengenai benda
sangat berkaitan dengan konsep anak tentang ruang dan waktu yang juga belum
terakomodasi dengan baik. Struktur ruang dan waktu belum jelas dan masih
terpotong-potong, belum dapat disistematisir dan diurutkan dengan logis.
Menurut Piaget,
mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan
akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan
perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak
karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak dengan pengalaman dan situasi
yang baru.
Piaget membagi
tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu:
Periode 1 :
Refleks (umur 0 – 1 bulan)
Periode paling
awal tahap sensorimotor adalah periode
refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir
sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi kebanyak
bersifat refleks, spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan. Tindakan
seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara
refleks.
Periode 2 :
Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)
Pada periode
perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasan-kebiasaan pertama. Kebiasaan
dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan.
Refleks-refleks yang dibuat diasimilasikan dengan skema yang telah dimiliki dan
menjadi semacam kebiasaan, terlebih dari refleks tersebut menghasilkan sesuatu.
Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya. Ia
mulai mengaakan diferensiasi akan macam-macam benda yang dipegangnya. Pada
periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan
mata dan telinga. Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya. Ia
juga mulai menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan
penglihatan bekerja bersama. Ini merupakan suatu tahap penting untuk menumbuhkan
konsep benda.
Periode 3 :
Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
Pada periode
ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di
sekitarnya (Piaget dan Inhelder 1969). Tingkah laku bayi semakin berorientasi
pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri. Ia menunjukkan koordinasi
antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga
menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya. Ia mencoba
menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi
sirkuler sekunder). Piaget mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada
sebuah benda yang dikenal, seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan
tidak mau memperhatikan agak lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu
“pengiaan” akan arti benda itu seakan ia mengetahuinya.
Periode 4 :
Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)
Pada periode
ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia
sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang
digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi
skema-skema yang telah ia ketahui. Bayi mulai mempunyai kemampuan untuk
menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan
tertentu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang
tetapnya (permanensi) suatu benda. Dari kenyataan bahwa dari seorang bayi dapat
mencari benda yang tersembunyi, tampak bahwa ini mulai mempunyaikonsep tentang
ruang.
Periode 5 :
Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)
Unsur pokok
pada perode ini adalah mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru untuk
mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen) bila dihadapkan pada
suatu persoalan yang tidak dipecahkan dengan skema yang ada, anak akan mulai
mecoba-coba dengan Trial and Error untuk menemukan cara yang baru guna
memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan
skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda
disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku
dalam situasi yang baru. Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi
sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada
periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap. Tentang
keruangan anak mulai mempertimbangkan organisasi perpindahan benda-benda
secara menyeluruh bila benda-benda itu dapat dilihat secara serentak.
Periode 6 : Refresentasi
(umur 18 – 24 bulan)
Periode ini
adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak sudah
mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis
dan eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya. Pada
periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke
intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat
menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan
dengan gambaran tersebut. Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi
ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi.
Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga
dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi.
Karakteristik
anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
Ø Berfikir
melalui perbuatan (gerak)
Ø Perkembangan
fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan
dan bicara.
Ø Belajar
mengkoordinasi akal dan geraknya.
Ø Cenderung
intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.
Tahap Pra
operasional : umur 2 -7 tahun.
(Ciri pokok
perkembangannya adalah penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif)
Istilah
“operasi” di sini adalah suatu proses berfikir logik, dan merupakan aktivitas
sensorimotor. Dalam tahap ini anak sangat egosentris, mereka sulit menerima
pendapat orang lain. Anak percaya bahwa apa yang mereka pikirkan dan alami juga
menjadi pikiran dan pengalaman orang lain. Mereka percaya bahwa benda yang
tidak bernyawa mempunyai sifat bernyawa.
Tahap pra
operasional ini dapat dibedakan atas dua bagian. Pertama, tahap pra konseptual
(2-4 tahun), dimana representasi suatu objek dinyatakan dengan bahasa, gambar
dan permainan khayalan. Kedua, tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini
representasi suatu objek didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak
kepada penalaran.
Karakteristik
anak pada tahap ini adalah sebagai berikut:
Ø Anak dapat
mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman
pribadinya, dan karenanya ia menjadi egois. Anak tidak rela bila barang
miliknya dipegang oleh orang lain.
Ø Anak belum
memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pemikiran
“yang dapat dibalik (reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible.
Ø Anak belum
mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu
bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.
Ø Anak bernalar
secara transduktif (dari khusus ke khusus). Anak juga belum mampu membedakan
antara fakta dan fantasi. Kadang-kadang anak seperti berbohong. Ini terjadi
karena anak belum mampu memisahkan kejadian sebenarnya dengan imajinasi mereka.
Ø Anak belum
memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
Ø Menjelang akhir
tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak
dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu
sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.
Tahap operasi
kongkret : umur 7 – 11/12 tahun.
(Ciri pokok
perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian
konkret)
Tahap operasi
konkret (concrete operations) dicirikan dengan perkembangan sistem
pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah
memperkembangkan operasi-oprasi logis. Operasi itu bersifat reversible, artinya
dapat dimengerti dalam dua arah, yaitu suatu pemikiran yang dapat dikemblikan
kepada awalnya lagi. Tahap opersi konkret dapat ditandai dengan adanya sistem
operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/konkret.
Ciri-ciri
operasi konkret yang lain, yaitu:
- Adaptasi dengan gambaran yang menyeluruh. Pada tahap ini, seorang anak mulai dapat menggambarkan secara menyeluruh ingatan, pengalaman dan objek yang dialami. Menurut Piaget, adaptasi dengan lingkungan disatukan dengan gambaran akan lingkunganitu.
- Melihat dari berbagai macam segi. Anak mpada tahap ini mulai mulai dapat melihat suatu objek atau persoalan secara sediki menyeluruh dengan melihat apek-aspeknya. Ia tidak hanya memusatkan pada titik tertentu, tetapi dapat bersam-sam mengamati titik-titik yang lain dalam satu waktu yang bersamaan.
- Seriasi Proses seriasi adalah proses mengatur unsur-unsur menurut semakin besar atau semakin kecilnya unsur-unsur tersebut. Menurut Piaget , bila seorang anak telah dapat membuat suatu seriasi maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitaan untuk membuat seriasi selanjutnuya.
- Klasifikasi Menurut Piaget, bila anak yang berumur 3 tahun dan 12 tahun diberi bermacam-maam objek dan disuruh membuat klasifikasi yang serupa menjadi satu, ada beberapa kemungkinan yang terjadi.
- Bilangan. Dalam percobaan Piaget, ternyata anak pada tahap praoperasi konkret belum dapat mengerti soal korespondensi satu-satu dan kekekalan, namun pada tahap tahap operasi konkret, anak sudah dapat mengerti soal karespondensi dan kekekalan dengan baik. Dengan perkembangan ini berarti konsep tentang bilangan bagi anak telah berkembang.
- Ruang, waktu, dan kecepatan. Pada umur 7 atau 8 tahun seorang anak sudah mengerti tentang urutan ruang dengan melihat intervaj jarak suatu benda. Pada umur 8 tahun anak sudan sudah sapat mengerti relasi urutan waktu dan jug akoordinasi dengamn waktu, dan pada umur 10 atau 11 tahun, anak sadar akan konsep waktu dan kecepatan.
- Probabilitas. Pada tahap ini, pengertian probabilitas sebagai suatu perbandingan antara hal yang terjadi dengan kasus-kasus yang mulai terbentuk.
- Penalaran. Dalam pembicaraan sehari-hari, anak pada tahap ini jarang berbicara dengan suatu alasan,tetapi lebih mengatakan apa yang terjadi. Pada tahap ini, menurut Piaget masih ada kesulitan dalam melihat persoalan secara menyeluruh.
- Egosentrisme dan Sosialisme. Pada tahap ini, anak sudah tidak begitu egosentris dalam pemikirannya. Ia sadar bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran lain.
Tahap operasi
formal: umur 11/12 ke atas.
(Ciri pokok
perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis)
Tahap operasi
formal (formal operations) merupakan tahap terakhir dalam perkembangan
kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat
berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan
proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari
apa yang dapat diamati saat itu. Cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti.
Sifat pokok
tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif sintifik,
dan abstrak reflektif.
# Pemikiran
Deduktif Hipotesis
Pemikiran
deduktif adalah pemikiran yang menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu
yang umum. Kesimpulan benar hanya jika premis-premis yang dipakai dalam
pengambilan keputusan benar. Alasan deduktif hipotesis adalah
alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari
premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan
dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu berdasarkan dengan kenyataan
yang real.
Dalam pemikiran
remaja, Piaget dapat mendeteksi adaanya pemikiran yang logis, meskipun para
remaja sendiri pada kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara
berpikir mereka itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan
hasil kesimpulan Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah
para remaja sendiri tahu atau tidak.
# Pemikiran
Induktif Sintifik
Pemikiran
induktif adalah pengambilan kesimpulan yang lebih umum berdasarkan
kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah.
Pada tahap pemikiran ini, anak sudah mulai dapat membuat hipotesis, menentukan
eksperimen, menentukan variabel control, mencatat hasi, dan menarik kesimpulan.
Disamping itu mereka sudah dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada
waktu yang sama.
# Pemikiran
Abstraksi Reflektif
Menurut Piaget,
pemikiran analogi dapat juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif
karena pemikiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman.
E. Teori
Pengetahuan
Berdasarkan pengalamannya
sejak masa kanak-kanak, Piaget berkesimpulan bahwa setiap makhluk hidup memang
perlu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat melestarikan kehidupannya.
Manusia adalah makhluk hidup, maka manusia juga harus beradaptasi dengan
lingkungannya. Berdasarkan hal ini, Piaget beranggapan bahwa perkembangan
pemikiran manusia mirip dengan perkembangan biologis, yaitu perlu beradaptasi
dengan lingkungannya. Piaget sendiri menyatakan bahwa teori pengetahuannya
adalah teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas, seperti organisme yang
beradaptasi dengan lingkungannya.
Teori Adaptasi
Piaget
Menurut Piaget,
mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual dimana pengalaman dan ide
baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui untuk membentuk struktur
pengertian yang baru. Setiap orang mempunyai struktur pengetahuan awal (skema)
yang berperan sebagai suatu filter atau fasilitator terhadap berbagai ide dan
pengalaman yang baru. Melalui kontak dengan pengalaman baru,skema dapat
dikembangkan dan diubah, yaitu dengan proses asimilasi dan akomodasi. Skema
seseorang selalu dikembangkan, diperbaharui , bahkan diubah untuk dapat
memahami tanyangan pemikiran dari luar. Proses ini disebut adap[tasi pikiran.
Teori
Pengetahuan Piaget
Teori
pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Dalam pembentukan
pengetahuan , Piaget membedakan tiga macam pengetahuan, yakni
- Pengetahuan fisis adalah pengetahuanakan sifat-sifat fisis suatu objek atau kejadian, seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi dengan yang lain.
- Pengetahuan matematis logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman akan suatu objek atau kejadian tertentu.
- Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang menyetujui sesuatu secara bersama.
F. Bagaimana
Pengetahuan Diperoleh?
1.
Teori Konstruktivisme
Teori
konstruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan
(bentukan) orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi
apabila seseorang mengubah atau mengembangkan slkema yang tslah dimiliki dalam
berhadapan dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan.
Teori Piaget
seringkali disebut konstruktivisme personal karena lebih menekankan pada keaktifan pribadi
seseorang dalam mengkonstruksikan pengetahuannya. Terlebih lagi karena Piaget
banyak mengadakan penelitian pada proses seorang anak dalam belajar dan
membangun pengetahuannya.
2. Mode Konstruktivis dalam Mengajar
Prinsip yang paling umum dan paling esensial yang dapat diturunkan
dari konstruktivisme adalah bahwa anak-anak banyak memperoleh pengetahuan di
luar sekolah, dan pendidikan seharusnya memperhatikan hal itu dan menunjang
proses alamiah ini. Untuk dapat melaksanakan proses belajar semacam ini,
disarankan beberapa prinsip mengajarkan sains di sekolah dasar (Kamii, 1979
dalam Dahar, 1989) :
a. Siapkanlah
benda-benda nyata untuk digunakan para siswa
b. Dengan
memperhatikan empat cara di bawah ini mengenai berbuat terhadap benda-benda, pilihlah pendekatan yang sesuai dengan tingakat perkembangan anak.
·
Berbuat terhadap benda-benda dan
melihat bagaimana benda-benda itu bereaksi
·
Berbuat terhadap benda-benda untuk
menghasilkan suatu efek yang diinginkan
·
Menjadi sadar bagaimana seseorang
menghasilkan efek yang diinginkan
·
Menjelaskan.
c. Perkenalkan
kegiatan yang layak, dan menarik, dan berilah para siswa kebebasan untuk
menolak saran-saran guru
d. Tekankan
penciptaan pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah dan demikian pula
pemecahan-pemecahannya
e. Anjurkan siswa
untuk saling berinteraksi
f. Hindari
istilah-istilah teknis dan tekankan berpikir
g. Anjurkan para
siswa berpikir dengan cara mereka sendiri
h. Perkenalkan-ulang
(reintroduce) materi dan kegiatan yang sama setelah beberapa tahun.
3.
Siklus Belajar
Salah satu strategi mengajar untuk menerapkan model
konstruktivis ialah penggunaan siklus
belajar. Ada tiga macam siklus belajar :
a.
deskriptif, menjawab pertanyaan apa? tetapi tidak menimbulkan
petanyaan, Mengapa?
b.
empiris-induktif, siklus ini mengemukakan
sebab dan selanjutnya menguji sebab tersebut.
c. hipotetis-deduktif, dimulai dengan
pertanyaan sebab, kemudian siswa diminta
untuk merumuskan jawaban-jawaban (hipotesis-hipotesis) yang mungkin terhadap
pertanyaan-pertanyaan itu. Selanjutnya dilakukan eksperimen-eksperimen untuk
menguji hipotesis-hipotesis itu (ekplorasi)
Hasil dari ketiga siklus diatas yang menunjukkan suatu
kontinuum dari saint deskriptif ke saint ekperimental.
Palangkaraya, September 2012
DAFTAR PUSTAKA
1.
Winaputran,
Udin s. Dkk (2007). Teori Belajar dan
Pembelajaran. Universitas Terbuka. Jakarta.
2.
Dahar,
R.W. Teori-teori Belajar. Erlangga.
Jakarta.